Jumat, 01 Februari 2013

Sebuah renungan untuk seorang anak

Selama 9 bulan seorang ibu membawa anaknya dalam perutnya, mengandungnya dalam rahimnya memberinya makan dari darahnya seakan-akan si anak adalah salah satu anggota badannya. Kemudian ibu melahirkannya secara susah payah dengan mempertaruhkan nyawanya. Disusuinya pula sang anak maka ia menjadi kuat dengan kelemahan ibu. Saat anak sakit ibu merawatnya dengan penuh kasih sayang tanpa memedulikan kesehatannya sendiri.

Tidak kurang juga pengorbanan seorang ayah demi anaknya. Ia berlelah-lelah demi kenyamanan si anak, menanggung derita demi membahagiakan si anak, bekerja untuk memenuhi kebutuhan si anak. Meski ayah pulang dalam kondisi lelah setelah bekerja, namun jika melihat anaknya menyambut dengan riang maka hilanglah segala lelah yang dirasanya.


Ayah dan ibu selalu menjaga dan merawat sang anak selama tahap demi tahap kehidupannya sehingga ia dapat tumbuh dan berkembang dengan sempurna. Namun setelah si anak dewasa, tidak jarang balasan untuk kedua orang tuanya adalah kedurhakaan dan pengabaian. Padahal jika yang dirawat dan diasuh adalah seekor binatang peliharaan seperti anjing, anjing pun setia kepada mereka. Jika mereka bersikap baik kepada keledai, maka keledai tidak akan menendangnya. Mereka berikan makan kepada seekor kucing maka kucing tidak akan menggigit mereka .

Demi allah, tidak ada perilaku kriminal yang lebih tercela, lebih hina, lebih pantas untuk dinistakan, lebih jauh dari nilai kemanusiaan, lebih berhak menerima laknat dari allah dan umat manusia, daripada seorang anak yang memperlakukan kedua orang tuanya dengan buruk.

Tahukah anda balasam apa yang paling pantas untuk kebaikan seorang ayah dan ibu ? Karena sebagaimana yang pernah diriwayatkan bahwa ada seorang anak yang mengadu kepada rasulullah SAW. Tentang buruknya akhlak ibunya. Beliau bersabda : "ia tidak berakhlak buruk ketika mengandungmu selama 9 bulan."si anak berkata,"sungguh ia berakhlak buruk." Beliau bersabda: "Ia tidak demikian ketika menyusuimu selama 2 tahun, ketika begadang pada malam harinya dan menanggung haus pada siang harinya." Si anak berkata, "Aku telah membalasnya." Beliau bertanya," Apa yang telah kau lakukan?" Si anak menjawab, "Aku telah menghajikannya dengan memanggulnya di atas pundakku." Beliau bersabda: "Kamu belum membalasnya sedikitpun."

Diriwayatkan pula bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW. : "Sesungguhnya kedua orang tuaku telah berusia lanjut, yamg aku lakukan terhadap keduanya adalah seperti keduanya merawatku selagi kecil. Lantas apakah aku telah memenuhi hak keduanya?" Beliau bersabda, "Tidak, sebab dulu keduanya melakukanya disertai kecintaan akan kelangsungan hidupmu, sedangkan kamu melakukannya dengan menginginkan kematian keduanya."

Ada pula riwayat lain bahwa seorang laki-laki bertanya, "wahai Rasulullah, ibuku telah tua renta. Aku memberinya makan dengan tanganku, aku memberinya minum, aku mewudhukannya, dan aku menggendongnya di atas pundakku, lantas apakah aku telah menunaikan haknya?" Beliau bersabda, "Belum, meski satu perseratus." Ia bertanya, " Memgapa ya Rasulullah?" Beliau menjawab, " Sebab ia melayanimu ketika kamu lemah dengan menginginkam kehidupanmu, sedangkan kamu melakukannya dengan mengharapkan kematiannya. Tapi kamu telah melakukan kebaikan, dan allah memberimu pahala yang banyak atas amal yang sedikit."

Bisa disimpulkan bahwa betapapun seorang anak telah mengorbankan segalanya, ia belum bisa menyamai pengorbanan orang tuanya terhadapnya, dan menunaikan hak orang tuanya.

Namun ada satu cara yang dapat kita lakukan jika kita ingin menunjukkan bakti kita kepada orang tua, yaitu dengan melakukan shalat sunnah birrul walidain. Sebagaimana sabda nabi : "Barang siapa mengerjakannya (shalat sunnah birrul walidain), maka berarti ia telah memenuhi hak kedua orang tuanya dan sempurna berbakti kepada mereka."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar